Berakhirnya Periode Keemasan Agen Koran Waktu ini – Zaman social media seperti saat ini membuat alat buat jalan ngos-ngosan dan nyaris ke arah kematian.
BEBERAPA tahun akhir, beberapa medium bikin di Jakarta tidak keluar kembali, serta salah satunya yang pamit dari jagat jurnalis Indonesia yaitu tabloid Bola di 26 Oktober 2018. Sementara medium bikin masih ada, koran, umpamanya, mulai kurangi halaman dan oplah. Efek amat berasa di ujung mata rantai dunia reporter, yakni penjual koran; dari agen, pelapak, dan retail di jalanan.
Di Jakarta, waktu ini, jarang dijumpai pengeteng atau kurir koran di “lampu merah”. Agen serta pelapak mulai juga gulung alas satu satu.
“Bima Agen”, satu diantaranya agen koran serta instansi iklan, di Jalan Tebet Raya, Jakarta Selatan, rasakan efek riil perubahan wadah sekarang ini. Agen ini pernah rasakan tahun keemasan jadi agen koran
Berakhirnya Periode Keemasan Agen Koran Waktu ini
Darmoyanto, pemilik agen, menekuni upaya koran mulai sejak 1968. Saat duduk di kursi sekolah dasar, Yanto, demikian dia akrab diundang, mengawali upaya jadi kurir koran.
Dia pernah merasakan periode saat beberapa orang berbarengan cari koran dan ikhlas bayar berapakah untuk mendapati koran. “Saat itu (1970) saat momen kematiannya Presiden Sukarno, saya jual di harga beberapa kali lipat juga orang tidak ada yang protes. Lantaran waktu itu momen besar, dan beberapa orang mau tahu insiden itu,” ujarnya terhadap HARIAN NASIONAL, Jumat (8/2).
Pemasukan dari menjajakan koran dalam satu bulan di masa 1970-an, kata Yanto, dapat difungsikan buat beli sebuah rumah. “Dahulu hasil jadi kurir koran saja dapat untuk mendanai sekolah saya sampai SMA,” kata Yanto.
Akan tetapi, masuk masa 1990-an biarpun koran masih digemari, dia menambahkan usaha agen air mineral dan gas elpiji. Koran mulai turun pecinta, pribadi di lapak Yanto, mulai sejak 2013.
“Kami dahulu siapkan Kompas lebih dari 20.000 eksemplar dan semua habis, saat ini cuma kami sajikan 900. Hanya itu masih tersisa sampai 80 eksemplar. Untung saja masih bisa diretur,” kata lelaki 63 tahun itu.
Jadi agen, Yanto pernah miliki beberapa ratus pelapak dan beberapa puluh retail alat bikin. Akan tetapi, saat ini jumlah mereka jadi menurun mencolok; pelapak yang ambil medium buat di Bima Agen tinggal dua, dan pengantar koran gak ada.
Tapi, Yanto masih mengharapkan di berlangganan individu yang gapai beberapa ratus.
Baca Juga : Transfer Uang
“Nasib koran tinggal menanti kapan remuknya, barangkali kurang dari 5 tahun tidak lagi ada. Perusahaan sebesar Kompas saja ‘tidak dapat lakukan perbuatan apapun sebab merugi’,” katanya.
Yanto memaparkan, terus bertahan jadi agen koran sebab dia berasa punya hutang budi. Koranlah yang udah berjasa dalam kehidupannya sekian lama ini maka dari itu sanggup menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkatan strata 2.
Perihal yang sama dihadapi “Manroe Agen” di Jalan Lapangan Tembak, Cibubur, Jakarta Timur. Meskipun tak sebesar Bima Agen, agen ini masih bertahan dengan menjajakan koran, tabloid, serta majalah.
Dara, penjaga agen dan pelapak Manroe Agen, berkata, sekarang pemasukan jauh jadi menurun diperbandingkan pada 2015. Di tahun awalan dia bekerja itu, penghasilan satu hari dapat di antara Rp 1 juta sampai Rp dua juta. Akan tetapi, sekarang pemasukan cuma range Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu.
Jumlah eksemplar beberapa koran terbitan Jakarta di dalam agen itu menyusut. “Pembaca koran itu kan umur di atas 45 tahun, di bawah umur itu jarang-jarang sekali yang beli koran, terkecuali bila ada ‘tugas’ (sekolah),” kata wanita 27 tahun itu. Dianggap Dara, di peristiwa-peristiwa spesifik, koran dapat tandas, seperti Piala Dunia, dialog calon presiden serta calon wakil presiden di Pemilu, dan yang lain.
Selainnya agen, pelapak kecil pun punyai nasib menderita. Adi (61), pelapak di wilayah Cililitan, Jaktim, mengatakan semenjak 2015, pemasaran koran serta media buat lain jadi menurun. Akhirnya, dia yang umum menyimpan uang Rp 350 ribu sampai Rp 500 ribu satu hari, sekarang cuman sekitar Rp 100 ribu. “Itu telah untung,” kata Adi yang dirikan lapak mulai sejak 30 tahun saat lalu. Untuk menambahkan pemasukan, dia buka warung kopi di seberang lapak.
Adi mulai kurangi eksemplar media bikin di lapaknya. Dia cuman menyiapkan koran-koran yang dapat diretur seperti Kompas, Berita Kota, Super Ball, Republika, Kampiun Score. “Pos Kota kendati pun tak dapat diretur, masih lumayan banyak pencintanya,” katanya.
Adi sekarang gak ingin mengambil koran seperti Indo Pos, Medium Indonesia, Jawa Pos, dan Sindo; bukan lantaran tidak dapat diretur, akan tetapi pun sepi penggemar.
Pembaca Tua
Koran saat ini cuma digemari banyak “kelompok tua”. Rasa fanatisme dan bisa saja bab tradisi, jadi argumen dari grup itu. Subandi, seseorang pensiunan asal Cibubur, menyatakan semenjak masih muda sudah baca koran.
Sebagai pecinta politik, sehari-hari dia cari Rakyat Merdeka. “Jika dari 1 lapak saya tidak mendapatkan Rakyat Merdeka, saya bakal cari ke lapak yang lain,” kata lelaki 70 tahun ini.
Seirama pula dihadapi Saut, lelaki 60 tahun, yang dihadapi di lapak yang serupa dengan Subandi. Dia nyaris tiap hari singgah ke lapak koran buat membaca dulu isi koran yang mau dibeli. “Informasi Kota tengah tidak menarik, jadi saya membeli Super Ball saja,” kata guru honorer di sekolah swasta itu, Jumat kemarin.
Selesai Subandi serta Saut pergi, hadirlah seorang remaja yang beli koran. Riko (16) ambil Pos Kota, Kampiun Score, dan Sindo. Cukup kaget lihat anak remja saat ini memboyong tiga koran. Tetapi, waktu diberi pertanyaan kenapa memboyong koran, Riko menjawab itu pesanan ayahanya yang tiap pagi membaca koran. “Saya sich lebih sukai baca di alat online atau menonton YouTube,” kata Riko.
Pelaku komunikasi Bagus Sudarmanto menuturkan, perubahan tehnologi info mengakibatkan transisi metode penduduk cari sumber info.
“Dari internet, penduduk bisa mendapat data dengan gratis. Terkecuali itu perubahan tehnologi memungkinkannya pemakai terhubung bermacam-macam basis yang memiliki sifat real time,” kata Dosen Komunikasi Kampus Bhayangkara Jakarta Raya.
Menurutnya, koran kalah aktual diperbandingkan dengan tempat online. Sementara angkatan milenial saat ini tidak miliki ketertarikan buat membaca koran. Perihal ini pula yang bikin beberapa media bikin tutup.